Selasa, 04 Desember 2012
Sirsak “ Pembunuh Sel Kanker “
Sabtu, 01 Desember 2012
PESTA KEMENANGAN BARACK OBAMA
Masih segar dalam ingatan, orang-orang yang berkerumun sejak sore. Makin larut, jumlah orang yang datang bukannya berkurang, malah makin membludak.
Padahal cuaca sedang tidak bersahabat.
Hujan nyaris tidak reda sejak pagi dan suhu udara tidak beranjak dari angka 3 derajat, bahkan beberapa kali menyentuh titik nol. Berdiri di tengah terpaan air hujan yang sedingin es selama beberapa menit saja membuat badan terasa masuk lemari es raksasa.
Tapi mereka terus bertahan menanti detik demi detik layar raksasa menayangkan hasil penghitungan di setiap negara bagian.
Dan saat yang dinantikan pun tiba. Obama terpilih kembali menjadi pemimpin Amerika.
Sorak sorai membahana. Inilah puncak perjuangan mereka.
Tidak sedikit dari mereka yang menjadi pegiat atau relawan tim Obama. Mereka bertugas terjun langsung ke masyarakat, mengetuk dari satu pintu ke pintu lain atau bertugas menelepon para pemilih.
Ada juga yang bertugas di media sosial. Mereka menyebarkan tombol 'suka' di Facebook yang sekaligus berfungsi sebagai pengingat rekan-rekan mereka untuk mencoblos Obama pada hari Selasa 6 November.
Jumlah relawan ini puluhan ribu kalau tidak ratusan ribu, tulis beberapa media di Amerika.
Mengapa mereka mau melakukannya?
Keinginan untuk melihat nasib rakyat Amerika yang lebih baik, demikian antara lain yang dikatakan dalam beberapa kali perbincangan dengan saya.
Mereka yakin dan percaya bahwa Obama berjuang untuk mereka, bukan untuk sekelompok kecil kelas di masyarakat.
Kesamaan visi dan aspirasi adalah energi raksasa yang bisa menggerakkan entitas besar bernama negara.
Ekonomi Amerika sedang sakit. Pertumbuhan lesu, yang antara lain membuat PHK ada di mana-mana. Orang juga susah mencari kerja.
Bayangkan Anda dalam posisi mencari pekerjaan, dan ratusan lamaran kerja yang Anda kirim tak satu pun yang terbalas.
Prestasi
Anda tentu akan frustrasi dan putus asa dan hilang harapan dengan orang-orang yang tengah memegang tampuk kekuasaan, seperti Presiden Obama.
Namun bukan Obama namanya bila tidak bisa menyihir dan membangkitkan optimisme.
Obama mengakui bahwa harapan dan perubahan yang ia janjikan empat tahun lalu belum semuanya terwujud.
Tapi bukan berarti ia tanpa prestasi.
Ia mengeluarkan paket kebijakan senilai US$768 miliar untuk merangsang perekonomian Amerika dan menyelamatkan sektor industri mobil, terutama di Ohio. Di negara bagian ini, satu dari delapan pekerjaan terkait dengan sektor otomotif.
Angka pengangguran juga sudah turun di bawah 8%.
Reformasi kesehatan yang ia luncurkan membuat puluhan juta rakyat sekarang memiliki asuransi yang menjamin bahwa mereka tak perlu mencari dana ke sana ke mari ketika berobat.
Ini semua membuat sebagian besar rakyat percaya bahwa Amerika sudah pada jalur yang benar dan mereka yakin Amerika akan kembali sehat, yang bermakna kehidupan mereka akan lebih baik.
Itu sebabnya Obama menang, karena rakyat masih percaya dengannya.
Bagi Mitt Romney, yang sebenarnya adalah arsitek sejati reformasi kesehatan ala Obama, ini adalah kekalahan pahit.
Sempat diperkirakan akan kalah telak, mantan gubernur ini tampil meyakinkan di debat pertama, yang antara lain membuat popularitasnya naik tajam.
Hingga hari pencoblosan, ia sama populernya dengan Obama. Latar belakang sebagai pengusaha menjadi salah satu andalan karena ia bisa mengklaim bahwa dirinya akan menangani perekonomian dengan lebih baik.
Tapi Amerika hanya membutuh satu orang presiden.
Dan jabatan itu kembali dipercayakan kepada pria keturunan Afrika, yang pernah menghabiskan masa kanak-kanak di Indonesia, Barack Hussein Obama.

